Saturday, June 20, 2020

Membalikan hambatan menjadi peluang yang ada didepan mata


Membalikan hambatan menjadi peluang, dengan mengambil hal terbaik dari situasi yang buruk dan belajar menghadapi situasi dengan mengubah pola pikir


Meminta masukan dari pelanggan mengenai produk adalah salah satu cara yang ampuh untuk menciptakan pelanggan-pelanggan yang setia. 


Keluhan pelanggan (complain) memang belum tentu benar, tetapi bagaimana pun juga mereka tetap harus dilayanai dengan sebaik-baiknya, Ingat, “Pelanggan adalah raja”, 


Blog “Strategi Bisnis yang Cantik“. Menyajikan artikel tentang Strategi bisnis untuk memenangkan persaingan dengan taktik berbisnis.




Baca juga : Artikel yang terkait



Menjadi seorang Enterpreneur pastinya memiliki Strategi serta memiliki taktik yang jitu dan cerdas dalam berbisnis. Naluri seorang entrepreneur yang kreatif dan memiliki perspektif tentang mengkelola  bisnis.


Enterpreneur memiliki perspektif bagaimana cara merealisasikan ide bisnisnya serta bagaimana cara mengelola bisnis yang baik dan konsisten.


Materi Kupasan :


Adversity quotient Menurut Paul G. Stoltz

1. Tingkatan Adversity Quotient Paul G. Stoltz.
  • Quitter 
  • Camper 
  • Climber 
2. Ciri, dan Karakteristik Menurut Paul G. Stoltz
  • Profil Quitter 
  • Profil Camper 
  • Profil Climber 


Hal-hal yang dapat membalikan hambatan menjadi peluang

1. Mengambil hal yang terbaik dari kondisi yang sulit 
  • Percaya akan mendapatkan dukungan sosial.
  • Tidak akan merasa sendiri. 
2. Belajar untuk menghadapi situasi
  • Berlatih untuk tetap selalu bersyukur. 
  • Lakukan gaya hidup sehat. 
  • Raihlah keseimbangan dalam hidup. 
  • Bertahanlah diri untuk tidak membuat perbandingan. 
  • Yakinlah bahwa tidak ada seorang pun yang sempurna di dunia ini.
  • Bergaullah dengan orang-orang yang positif. 
  • Memebuat diri lebih berharga. 
3. Mengubah Pola Pikir 
  • Pahami manfaat dari optimisme. 
  • Hindari pola pikir yang selalu negatif. 
  • Mengharapkan hasil yang terbaik. 
  • Siap gagal.

Kemampuan untuk dapat membalikan hambatan menjadi peluang 
1. Karakter 
2. Kompetensi
  • Manajemen Pribadi. 
  • Pemahaman Emosional. 
  • Kemampuan Bersosialisasi. 
  • Pengetahuan Teknis. 
  • Kecakapan Intuisi. 
  • Kemampuan Belajar. 

Cara untuk membalikan hambatan menjadi peluang bagi Pebisnis

  1. Jangan membuangnya, sepenuhnya komit
  2. Minta bantuan
  3. Evaluasi ulang rencana Anda
  4. Tanya mengapa


Hambatan-hambatan yang sering dialami bagi Pebisnis


  1. Kurangnya dukungan 
  2. Keinginan untuk melakukan sesuatu yang baik 
  3. Mendapatkan dan mempertahankan model 
  4. Menemukan pelanggan pertama 
  5. Ditolak investor 
  6. Menyadari langkah yang salah 
  7. Menutup bisnis 



Tak lupa di ucapkan Terima kasih, telah berkunjung di artikel ini. Mohon kiranya mau menshare dan meninggalkan komentar serta kritik di akhir artikel ini.






Membalikan hambatan menjadi peluang yang ada didepan mata
Membalikan hambatan menjadi peluang yang ada didepan mata





Adversity quotient Paul G. Stoltz


Kesuksesan yaitu sejauh mana seseorang terus maju dan sukses, terus meningkat sepanjang perjalanan hidupnya walau berbagai rintangan dan hambatan yang menjadi penghalang. 

Adversity quotient digunakan untuk membantu seseorang untuk memperkuat kemampuan dan ketekunannya menghadapi setiap tantangan hidup, yang berpegang pada prinsip serta harapan yang mejadi tujuan hidupnya.




1. Tingkatan Adversity Quotient (Paul G. Stoltz)



Adversity quotient adalah kecerdasan atau kemampuan yang dimiliki individu untuk lepas dari kesulitan dan mampu bertahan hidup, tidak mudah menyerah untuk menghadapi setiap kesulitan-kesulitan hidup. 


Peran Adversity quotient sangat penting untuk mencapai tujuan hidup seseorang atau untuk mempertahankan visi seseorang. 



Adversity Quotient Mengubah Hambatan Menjadi Peluang


Adversity Quotient merupakan penilaian yang mengukur bagaimana respon seseorang dalam menghadapai masalah untuk dapat diberdayakan menjadi peluang. 


Adversity quotient dapat menjadi indikator seberapa kuatkah seseorang dapat terus bertahan dalam suatu pergumulan. Mundur di tengah jalan atau bahkan tidak mau menerima tantangan sedikit pun. 


Adversity Quotient dapat melihat mental seseorang. Melihat sikap dari individu tersebut dalam menghadapi setiap masalah dan tantangan hidupnya. sampai pada akhirnya orang tersebut dapat keluar sebagai pemenang.


Ada pendaki puncak yang menyerah sebelum pendakian dimulai, ada yang merasa puas ketika berada pada ketinggian tertentu, dan ada yang mendaki terus hingga puncak tertinggi. 


Berikut adalah penjelasan penggunaan istilah tersebut didasarkan pada kisah pendaki puncak Everest.



a. Quitter 


Quitter adalah istilah untuk individu yang memilih keluar untuk menghindar dari kewajiban, mundur, dan berhenti, seperti halnya pendaki yang menyerah sebelum pendakian puncak Everest dimulai. 


Individu dengan tipe ini memilih untuk berhenti berusaha dan mengabaikan, menutupi, dan  meninggalkan dorongan inti yang manusiawi untuk terus berusaha. Secara singkat, individu dengan tipe ini biasanya meninggalkan banyak hal yang ditawarkan oleh kehidupan. 



b. Camper 


Camper adalah istilah untuk individu yang telah berusaha sedikit kemudian mudah merasa puas apa yang telah dicapainya. Individu tipe ini biasanya bosan melakukan pendakian, lalu mencari posisi yang nyaman dan bersembunyi pada situasi yang bersahabat.   


Individu dengan tipe ini beranggapan bahwa hidupnya telah sukses sehingga tidak perlu lagi melakukan perbaikan dan usaha, seperti halnya pendaki yang telah merasa puas ketika berada pada posisi tertentu menuju puncak Everest sehingga memutuskan untuk mengakhiri pendakian di posisi itu. 



c. Climber 


Climber adalah individu yang melakukan usaha sepanjang hidupnya Individu dengan tipe  ini akan terus berusaha untuk mencapai tujuan tanpa menghiraukan latar belakang, keuntungan maupun kerugian, dan nasib baik maupun  buruk.


Seperti halnya pendaki yang telah bertekad menaklukkan puncak Everest, apapun  hambatan dalam proses pendakian akan diselesaikannya demi mencapai puncak Everest.




2. Ciri, dan Karakteristik (Paul G. Stoltz)



a. Profil Quitter 



  • Menolak untuk mendaki lebih tinggi 
  • Bergaya hidup datar dan “tidak lengkap” 
  • Bekerja sekedar cukup untuk hidup 
  • Cenderung menghindari tantangan berat yang muncul dari komitmen yang sesungguhnya 
  • Jarang sekali memiliki persahabatan yang sejati 
  • Cenderung menolak perubahan dan melawan atau lari ketika menghadapi perubahan 
  • Terampil dalam menggunakan kata-kata yang sifatnya membatasi, seperti “mustahil”, “ini konyol”, dan sebagainya 
  • Berkemampuan kecil atau bahkan tidak sama sekali dan berkontribusi dalam jumlah  yang sangat sedikit karena tidak memiliki visi dan keyakinan terhadap masa depan 



b. Profil Camper 



  • Ada kemauan untuk mendaki, meskipun akan “berhenti” di pos tertentu, dan merasa cukup sampai di posisi tersebut 
  • Cukup puas telah mencapai suatu tahapan tertentu (satis-ficer) 
  • Masih memiliki sejumlah inisiatif, tetapi hanya sedikit semangat sehingga hanya melakukan sedikit usaha 
  • Mengorbankan kemampuan individunya untuk mendapat kepuasan, dan mampu membina hubungan dengan para camper lain 
  • Menahan diri terhadap perubahan sehingga tidak terlalu menyukai perubahan besar  karena merasa nyaman dengan kondisi yang ada 
  • Menggunakan bahasa dan kata-kata kompromistis, seperti , “ini cukup bagus” atau “kita cukuplah sampai di sini saja” 
  • Memiliki prestasi yang tidak tinggi dan berkontribusi dalam jumlah yang tidak besar 
  • Meskipun telah melalui berbagai rintangan, akan berhenti pada suatu tempat untuk “berkemah” 



c. Profil Climber 



  • Merupakan individu yang membaktikan dirinya untuk terus “mendaki” dan merupakan  pemikir yang selalu memikirkan kemungkinan-kemungkinan 
  • Hidupnya lengkap karena telah melewati dan mengalami semua tahapan sebelumnya. Merupakan individu yang menyadari bahwa akan banyak imbalan  yang  diperoleh dalam jangka  panjang  melalui “langkah-langkah  kecil” yang sedang dilewatinya 
  • Menyambut baik tantangan, memotivasi diri, dan memiliki semangat tinggi, karena  memiliki kecenderungan membuat segala sesuatu terwujud dan berjuang mendapatkan yang terbaik dalam hidup 
  • Tidak takut menjelajahi potensi-potensi tanpa batas yang ada di antara manusia sehingga memahami dan menyambut baikresiko menyakitkan yang ditimbulkan    karena bersedia menerima kritik 
  • Menyambut baik setiap perubahan bahkan ikut mendorong setiap perubahan tersebut kea rah yang positif 
  • Individu yang berbahasa dengan penuh kemungkinan-kemungkinan, tentang apa yang bisa dikerjakan dan cara mengerjakannya, sehingga tidak sabar dengan kata-kata yang tidak didukung dengan perbuatan 
  • Memberikan kontribusi yang cukup besar karena dapat mewujudkan potensi yang ada pada dirinya 
  • Individu yang tidak asing dengan situasi yang sulit karena kesulitan merupakan bagian dari hidup.






Membalikan hambatan menjadi peluang yang ada didepan mata
Membalikan hambatan menjadi peluang yang ada didepan mata



Hal-hal yang dapat membalikan hambatan menjadi peluang



Pribahasa mengatakan  “When life gives you lemons, make lemonade” (ketika hidup memberikanmu limau, buatlah limun). 

Pribahasa yang sudah terkenal itu pada dasarnya mengajarkan untuk selalu melakukan yang terbaik, meskipun menghadapi situasi yang sulit (dengan kata lain, jadikan hambatan sebagai peluang). 


Bila sedang mendapatkan atau menghadapi situasi yang sulit dan tidak menyenangkan (dalam hal ini, digambarkan dengan asamnya buah limun), namun lakukan hal yang terbaik untuk mendapatkan yang terbaik dari situasi yang kurang baik. 


Mungkin dalam pribahasa itu, lebih mudah mengatakan dari pada menjalankannya di dalam kehidupan sehari-hari. Maka dari itu, belajarlah untuk memiliki sikap yang lebih optimis dalam menghadapi kesulitan atau hambatan dalam hidup.




1. Mengambil hal yang terbaik dari kondisi yang sulit 



Belajarlah hidup dari situasi yang dihadapi, dengan kondisi yang sulit akan lebih mudah diatasi jika memandangnya sebagai kesempatan untuk belajar. Belajar dari setiap situasi atau kondisi yang sulit.


Dari hal tersebut diatas sesungguhnya bisa dijadikan pembelajaran, yaitu membangun sesuatu dalam kondisi sulit. Temukan dan belajarlah dari situasi yang dihadapi dan laksanakanlah apa yang telah menjadi pelajaran dari kondisi tersebut untuk di kemudian hari. 


Ketika menghadapi permasalahan yang sulit, anggaplah masalah tersebut sebagai tantangan yang dapat menjadikan lebih kuat ketika menghadapi masalah yang sulit di kemudian hari. 


Pertanyaanya,  “Apa yang bisa dipelajari dari situasi ini ? ”


Dengan begitu, maka akan berusaha untuk dapat melalui situasi tersebut dan percaya akan dapat membuat keputusan yang lebih bijak dan cermat.


Akan secara otomatis akan merasa lebih baik saat menghadapi situasi yang buruk ketika dapat mengendalikan segala sesuatu yang dihadapi. Kendalikanlah hal-hal yang pada dasarnya dapat di kendalikan. 


Sesungguhnya memang benar bahwa kita tidak akan mampu mengendalikan banyak hal dalam hidup. Akan tetapi, kita perlu fokus pada hal-hal yang dapat kita kendalikan agar pandangan kita terhadap hidup menjadi lebih baik. 


Rasa optimisme lebih banyak didapatkan pada orang-orang yang telah memiliki kendali yang besar dalam menghadapi situasi tertentu. contohnya seorang pengemudi yang terlibat dalam kecelakaan lalu lintas atau pasien yang mengalami kanker kulit.


Hal itu dapat dibandingkan dengan orang yang memegang kendali lebih kecil, seperti seorang penumpang mobil yang terlibat dalam kecelakaan lalu lintas atau pasien yang diharuskan mengenakan alat bantu. 



a. Percaya akan mendapatkan dukungan sosial.


Apa pun yang sedang dihadapi, dengan mengingat kembali bahwa akan ada orang yang mau membantu. Terlepas apakah itu sedang menghadapi masalah keuangan, putus hubungan atau pemulihan dari masalah kesehatan dan masalah lainnya.


Percayalah akan ada orang yang mau memahami situasi yang sedang di hadapi. Ketika terhubung atau berinteraksi dengan orang lain. 



b. Tidak akan merasa sendiri. 


Dengan selalu menghubungi atau meminta bantuan teman atau anggota keluarga, ketika mengalami situasi yang sulit. Tetapi jangan ragu juga untuk meminta bantuan lebih lanjut kepada pemuka agama atau konselor. 


Atau juga dapat berhubungan dengan orang yang pernah atau sedang mengalami situasi yang sama. Misalnya melalui situs-situs atau forum-forum di internet seperti Kaskus.



Ubahlah gaya dan penggunaan bahasa pada diri sendiri. 


Sering kali orang tidak menyadari makna sebenarnya dari apa yang di ucapkan. Sering kali hanya mengatakannya hal-hal yang sepele, namun justru sering‘mengundang’orang menjadi kecewa atau negativisme. 




2. Belajar untuk menghadapi situasi



Memiliki rasa optimis sama pentingnya dengan mengendalikan reaksi dan pola pikir. Mungkin sering mendengar bahwa tingkat keseriusan masalah sering kali tidak dipengaruhi oleh kondisi yang ada, tapi dari reaksi kita terhadap situasi tersebut. 



Mengembangkan kemampuan untuk menghadapi setiap masalah secara sehat. 


Dengan memiliki kemampuan yang sehat atau positif yang dapat terapkan ketika menghadapi kondisi yang membuat tertekan atau kesal merupakan kunci dalam menjaga optimisme. 


Kemampuan untuk menghadapi masalah secara sehat meliputi:



  • Memelihara persahabatan yang positif
  • Tetap aktif (secara fisik)
  • Menggunakan gurauan atau lelucon untuk mencairkan suasana
  • Bergantung pada kelompok spiritualitas
  • Berlatih untuk meditasi
  • Meninggalkan realita dengan melalui banyak membaca
  • Mengejar minat dan yang telah menjadi hobi
  • Meluangkan waktu dengan hewan peliharaan



Tetap fokus dalam menghadapi situasi yang tidak menyenangkan. Jangan mencoba atau memaksakan diri untuk bahagia karena hal tersebut dapat memberikan efek yang berlawanan. Dari pada mencoba bahagia, cobalah untuk tetap fokus menjalani situasi yang ada. 


Nikmati momen kebahagiaan yang di dapat. Kemudian, kalau terjebak dalam pola pikir yang negatif, gunakan kemampuan untuk menghadapi masalah secara sehat agar tetap fokus untuk menghadapi situasi dan menjauhkan diri dari pikiran yang membuat terpuruk. 


Dengan tetap berfokus pada situasi yang dihadapi, maka dapat menangkal sikap pesimis :



a. Berlatih untuk tetap selalu bersyukur. 


Salah satu cara agar tidak lagi ragu dalam memandang hidup secara positif dan mampu mengubah hambatan menjadi peluang, adalah dengan mengembangkan jiwa yang penuh dengan rasa bersyukur. 


Suatu pelajaran bahwa bersyukur secara konsisten :



  • Dapat memberi manfaat, 
  • Datangnya kebahagiaan dan peluang, 
  • Menurunnya perasaan kesepian dan terisolasi, 
  • Fungsi kekebalan tubuh yang meningkat, 
  • Lahirnya sikap atau perilaku penuh kasih sayang pada orang lain.



Menanam rasa bersyukur dalam kehidupan, yaitu dengan mulai memperhatikan hal-hal kecil yang terjadi setiap hari. 


Hal tersebut diatas, di antaranya, adalah :



  • Mendengar tawa anak-anak
  • Memiliki waktu untuk berdiam untuk membaca buku
  • Menikmati makanan mewah
  • Memeluk orang yang sayangi.



Setiap hari tidak hanya memperhatikan hal-hal kecil yang ditemui, tetapi juga dengan mencatatnya. 


Buatlah buku harian untuk mencatat rasa bersyukur, yaitu yang berisikan kebaikan-kebaikan yang diterima sepanjang hari. Mencatat informasi yang lebih rinci mengenai kejadian atau situasi tertentu yang disyukuri. 



b. Lakukan gaya hidup sehat. 


Merawat kesehatan fisik dan mental dengan baik, akan lebih mudah untuk melihat (dan menghargai) pencapaian, dari pada fokus kekurangan dalam hidup. Gaya hidup yang sehat terdiri dari : 



  • Berolahraga secara teratur, dengan durasi sekitar 30 menit, lima kali dalam seminggu
  • Mengonsumsi makanan dengan gizi seimbang, sekitar 3 sampai 5 kali sehari
  • Tidur dengan cukup selama 7 sampai 9 jam
  • Mengelola atau mengendalikan stres (menggunakan kemampuan penanganan stres)
  • Bersenang-senang atau melakukan hal-hal yang membuat tertawa dan tersenyum



c. Raihlah keseimbangan dalam hidup. 


Bersikap realistis adalah langkah penting untuk bersikap optimis. Tidak ada seorang pun yang memiliki kehidupan yang mutlak, mutlak kehidupan yang baik atau yang buruk. 


Namun optimisme yang berlebihan (biasanya ditunjukkan melalui pandangan ‘segalanya akan selalu baik’), bila demikian maka dapat membuat harapan (ekspektasi) hancur. 


Bila demikian maka tidak adanya evaluasi terhadap tujuan hidup secara berkala, untuk memastikan tujuan tersebut harus tetap realistis, bila tidak maka akan kembali melalui ‘jalan’ atau kegagalan yang sama. 



d. Bertahanlah diri untuk tidak membuat perbandingan. 


Berusaha membandingkan, meninggikan hidup dengan pencapaian orang lain merupakan kebiasaan buruk yang perlu segera ditinggalkan. Dengan memperbandingkan dengan orang lain, maka dapat membuat terus merasa tidak nyaman dan tidak puas.


Memperbandingkan pencapaian diri sendiri dengan pencapaian orang yang lebih atraktif, lebih kaya, atau lebih sukses. Berhentilah mengidealkan berbagai aspek dalam hidup dan mulailah menerima bahwa setiap manusia memiliki kelebihan dan kekurangan tersendiri. 


Dari pada melihat penampilan dari luar orang lain dan menjadikan kehidupan orang lain sebagai kehidupan yang ideal. maka perlu dinilai secara realistis bahwa orang tersebut juga pernah melakukan kesalahan dan mengalami hal-hal yang tidak menyenangkan (buruk). 



e. Yakinlah bahwa tidak ada seorang pun yang sempurna di dunia ini.


Terimalah dengan kenyataan bahwa ada, banyak hal yang tidak dapat diketahui begitu saja yang hanya dari penampilan seseorang (misalnya kelemahan atau kekurangan). Dengan demikian tidak akan merasa kesal atau tidak puas dengan kekurangan diri. 



f. Bergaullah dengan orang-orang yang positif. 


Cara yang baik dan tidak diragukan lagi, yaitu dengan menjaga agar tetap memiliki pandangan yang baik dan cerah, yaitu dengan meluangkan waktu bersama-sama dengan orang yang selalu dapat menghargai.



g. Memebuat diri lebih berharga. 


Lingkungan selalu memberikan pengaruh yang sangat besar pada pikiran, perasaan, dan perilaku kita. Ketika dikelilingi dengan kawan-kawan dan anggota keluarga yang supportif, maka akan mendapatkan kesempatan besar untuk dapat berkembang.




3. Mengubah Pola Pikir 



Orang yang selalu bersikap dan berpikir optimis (orang yang selalu melihat dari sisi baik) cenderung memilih sesuatu dengan lebih baik, dari mulai kehidupan kerja/sekolah hingga hubungan dengan orang lainnya.



a. Pahami manfaat dari optimisme. 


Orang tidak hanya memiliki kehidupan yang lebih baik, tetapi lebih dari itu, yaitu untuk hidup yang lebih panjang. Hal ini kita tidak harus terlahir dari sosok yang optimis untuk bisa mendapatkan manfaat tersebut karena optimisme dapat dipelajari. 


Sesungguhnya optimisme dapat diajarkan melalui perilaku atau tindakan, termasuk mendapatkan kasih sayang, mengalami kegagalan serta berkesempatan untuk mengambil risiko, dan melihat orang lain yang selalu bersikap optimis. 



b. Hindari pola pikir yang selalu negatif. 


Langkah untuk dapat membalikan hambatan menjadi peluang adalah dengan menyadari negativitas yang ada pada diri sendiri. Jika tidak menyadari kecenderungan diri atau hanya melihat segala sesuatu dari sisi buruk saja maka tidak akan dapat mengubah kebiasaan ini. 


Ingatlah selalu dan kenali anggapan-anggapan yang selalu berpikir negatif yang sering kali di buat. Ketika menyadari adanya pola pikir yang selalu negatif, maka hindarilah pola pikir tersebut dengan mencari hal yang lebih positif untuk yang akan dikatakan atau dipikirkan. 


Misal, gagal dalam mengikuti ujian di sekolah dan gagal dalam membuat kesimpulan “Aku tidak pandai dalam suatu bidang tertentu”.  Dari pada memiliki pikiran seperti itu, lebih baik mengubah pikiran tersebut. 


Untuk dapat mengubah hal tersebut diatas, misalnya, “Matematika memang sulit, namun aku pandai dalam bahasa Inggris dan sejarah ”. Jika selama ini selalu bersikap dan berpikir pesimis, maka akan tampak ketidak jujuran.


Hilangkanlah pikiran-pikiran yang selalu negatif yang muncul secara alami. Lawanlah  perasaan palsu tersebut dengan seiring berjalannya waktu, dan akan dapat berpikir lebih optimis.



c. Mengharapkan hasil yang terbaik. 


Orang-orang yang sukses di berbagai pekerjaan atau di berbagai bidang usaha termasuk dibidang industri (termasuk atlet profesional dan pejabat eksekutif tertinggi) sering membuat visualisasi untuk membantu mereka mendapatkan kesuksesan. 


Untuk mendapatkan gambaran suatu kesuksesan serta untuk dapat meraihnya dengan : 



  • Menciptakan ide-ide kreatif yang digunakan untuk mencapai hasil yang diinginkan, 
  • Membuat rencana serta berupaya bagaimana cara dan memperhatikan sumber-sumber lain yang dibutuhkan untuk meraih kesuksesan.
  • Membuat bagaimana orang dapat tertarik dan membuat hal-hal yang positif. (mis. menerapkan hukum tarik-menarik), 
  • Motivasi yang diperlukan untuk mengambilt tindakan yang tepat. 



Teknik visualisasi cukup mudah untuk dapat dikuasai. yaitu dengan cara meluangkan waktu beberapa menit setiap harinya, menenangkan diri dengan menutup mata dan membayangkan menjalani kehidupan dengan tujuan yang telah tercapai. 


Perhatikan secara terperinci dan aktifkan indra tubuh agar gambaran tersebut dapat lebih jelas dan lebih nyata.



d. Siap gagal 


Bersikap selalu optimis memang dapat membuat lebih lega dan yakin dalam menjalani kehidupan, namun juga sisi pesimis sering kali melawan sikap optimis tersebut, sehingga diperlukan suatu dukungan. Mungkin pernah mendengar pepatah “Sedia payung sebelum hujan”. 


Pepatah tersebut mengajarkan kita untuk selalu mempersiapkan diri jika sewaktu-waktu mengalami hal yang buruk. Memang perlu berpikir optimis dan mengharapkan hal terbaik dalam satu situasi. 


Perlu juga bersiap-siap, jika sewaktu-waktu mendapatkan hal yang buruk. Strategi ini dapat membantu dalam menyeimbangkan sisi yang terlalu optimis dengan sisi yang terlalu pesimis. 


Mengarahkan energi pada hasil yang lebih baik, namun juga perlu mempersiapkan diri dan mencari alternatif untuk menghadapi hasil terburuk.






Membalikan hambatan menjadi peluang yang ada didepan mata
Kemampuan untuk dapat membalikan hambatan menjadi peluang 



Kemampuan untuk dapat membalikan hambatan menjadi peluang 



Memahami apa yang telah di wujudkan dalam kegiatan sehari-hari. Orang sering menilai bukan hanya sekedar memahami apa yang di yakini. contohnya, datang terlambat dalam suatu kegiatan apapun, hal itu merupakan budaya karet yang kurang baik.


Sekarang coba bagaimana menurut Anda tentang sikap tersebut diwujudkan dalam perilaku sehari-hari. Bila sudah dapat diwujudkan dan mengimplementasikan dalam kehidupan, maka Anda sudah menjadi seorang model.


Apa yang dimaksud Model ?


Model yang dimaksud adalah, dengan contoh modelnya orang pinter fisika (Einstein) dengan Binaragawan (Ade Rai).


Itulah model.


Einstein itu adalah model dari orang pinter, Sedangkan Ade Rai adalah model dari binaragawan. 


Selanjutnya bagaimana dengan anda ?.


Anda juga bisa menjadi model


Namun model yang dimaksud,  bukan model untuk iklan, menjadi model yang telah diyakini. Lalu bagaimana untuk menjadi model ?




1. Karakter 



Karakter adalah yang berhubungan dengan diri anda, karakter tumbuh sebagai hasil dari kebiasaan, kebiasaan hasil dari perbuatan dan perbuatan adalah hasil pemikiran.


Jika anda ingin memiliki karakter, maka harus dimulai dari pikiran anda sendiri, hal tersebut seVariatif mungkin tentang semua aspek yang dapat menunjang kesuksesan, sehingga dapat melihat dengan mata yang lebih lebar dan lebih luas.


Jangan berfikir ikut-ikutan orang, sesungguhnya anda sendiri tidak yakin, bahkan tidak paham dengan apa yang di lakukan. Apabila hal itu terjadi maka hal itu adalah sesuatu yang semu & tabu.


Lalu bagaimana bisa jadi model ?.


Sesungguhnya karakter dibangun dengan pendekatan yang mengandung unsur :



  • Percaya diri
  • Melebihi rata-rata
  • Punya daya tahan yang tinggi
  • Tidak mudah mengeluh.




2. Kompetensi



Kompetensi hampir sama artinya dengan kemampuan. Sedangkan kompetensi adalah apa yang bisa di lakukan, seperti ungkapan kalimat di bawah ini :



  • Dari pemikiran akan menghasilkan perbuatan
  • Dari perbuatan akan menghasilkan kebiasaan
  • Dari kebiasaan akan menghasilkan karakter 



Kemampuan yang baik adalah sebagai berikut :



a. Manajemen Pribadi. 


Kemampuan mengelola kehidupan, dari merancang tujuan, merubah hambatan menjadi peluang, menghadapi tekanan, mengantisipasi kebutuhan dan bertanggung jawab.



b.  Pemahaman Emosional. 


Kemampuan untuk menyadari emosi yang dirasakan, kemampuan dalam memahami emosi orang lain dan kemampuan mengelola serta bekerja sama dengan orang lain yang memiliki secara emosional.



c. Kemampuan Bersosialisasi. 


Kemampuan untuk mengerti, memahami dan berkomunikasi dengan orang lain. Pastinya selalu berinteraksi dengan orang yang serta melihat keadaan dan kondisi lingkungan dengan cara yang berbeda. 



d. Pengetahuan Teknis. 


Kemampuan dalam keterampilan teknis, seperti menulis, melobi atau keterampilan lainnya yang berhubungan dengan profesi.



e. Kecakapan Intuisi. 


Kemampuan untuk memperoleh pengetahuan baru tanpa harus belajar. Intuisi mengutamakan kecepatan dalam merespon dan keberanian untuk mengambil resiko.



f. Kemampuan Belajar. 


Kemampuan belajar untuk menghadapi suatu kesulitan maupun kemudahan.


Rumus menjadi model sudah di ketahui, yaitu mempunyai karakter dan kompetensi. Sehingga hanya mengaplikasikannya secara praktis di berbagai peluang dan kesempatan yang ada. Suatu bentuk pemikiran untuk menjadi model dari apa yang di yakini. 


Sebab orang sukses bukan hal yang kebetulan, tetapi merupakan rangkaian keputusan yang terus-menerus. Bukan kondisi atau keadaan yang menentukan kualitas hidup seseorang, melainkan kemampuan dalam menghadapi kondisi tersebut. 


Perjalanan panjang menuju sukses bukanlah sekedar memenuhi deadline rutinitas, Solusi terbaiknya adalah kembali pada optimisme yang baik secara pribadi maupun kolektif.


Diharapkan komunitas inilah yang akan dapat menanggung beban masa depan, kelompok secara khusus dan bangsa Indonesia secara umum.






Membalikan hambatan menjadi peluang yang ada didepan mata
Membalikan hambatan menjadi peluang diumpamakan sebagai suatu lompatan.


Cara membalikan hambatan menjadi peluang bagi Pebisnis


Hal-hal yang manis tentang tantangan pahit, adalah bahwa mereka yang diberi peluang.  Tantangan adalah bagian dari perjalanan menuju kesuksesan. 

Fakta bahwa sukses tidak dapat menghentikan tantangan baru yang akan datang dan akan dapat menyulitkan.Menjadi seorang Pebisnis dan menjalankan usaha (bisnis) adalah hal yang sulit. 


Pebisnis akan mendapatkan saat-saat yang sulit dan tidak tahu kapan dan bagaimana untuk selanjutnya. Jangan biarkan momen-momen itu menjebak dan merusak seluruh kerja keras dalam hidup. Ada beberapa cara untuk mengatasi rintangan itu, berikut :




1. Jangan membuang hal-hal yang telah komit



Tahukah ketika suatu pasangan bertengkar dalam suatu hubungan, lalu membuangnya pasangan, putus adalah mudah. Yang sulit adalah menyelesaikan dan melewatinya dan melanjutkannya dengan bahagia.


Sama halnya dengan bisnis, jangan dibuang ketika hal itu bermasalah atau ada hal-hal yang tidak sejalan seperti yang telah di rencanakan. Berikan komitmen dan bertahan sampai hal-hal tersebut dapat diselesaikan.


Komitmen yang teguh di pasar saat ini sudah terlihat sangat langka. ketika menjadi  pemimpin dan ketika menunjukkan keragu-raguan dan sifat takut terhadap komitmen, maka seluruh tim akan mengikutinya. 


Dengan sedikit waktu dan dengan segala upaya dapat memperbaikinya. Namun, dalam hal apapun, meninggalkannya dengan alasan kesulitan bukanlah solusi.




2. Minta bantuan



Dengan Mendelegasikan otoritas, tanggung jawab dengan bawahan, berkonsultasi, atau merekrut ahli untuk dapat menyelesaikan masalah yang sedang di hadapi. Pastinya karena membutuhkan bantuan.


Menjadi Pebisnis bukan hal yang kebetulan, untuk melengkapi kekuatan dalam menangani semua masalah sendirian. untuk dapat bantuan dapat memilih sumbernya dari internal untuk membantu atau dapat juga mencari dari eksternal.Jika situasinya menuntut demikian. 


Atau dapat juga meminta bantuan dari anggota keluarga untuk mendukung jika dianggap cocok. Jangan mengambil semuanya dari pundak, bersikaplah adil dan berbagi.




3. Evaluasi ulang rencana



Hal itu harus dievaluasi kembali untuk memastikan tidak akan berakhir dengan kegagalan atau membuat semua yang telah direncakan berantakan, karena tidak dapat disimpan.

Bagus untuk merencanakan sesuatu di depan. 

Pebisnis memiliki kecenderungan untuk merencanakan dan kemudian bekerja menuju pelaksanaannya. Masalahnya adalah ketika rencana tersebut tidak bekerja pada arah yang benar. 




4. Tanya mengapa



Tantangan akan memberi alasan untuk berusaha lebih keras dan ini mengapa akan menjadi sistem pendukung yang hebat dalam prosesnya. Ketika hampir berhenti karena tantangan, tanyakan pada diri sendiri, mengapa memulainya dari awal. 


hal tersebut akan memberi penjelasan dalam pikiran dan memotivasi untuk dapat menyelesaikan apa yang mulai terlepas dari serangkaian tantangan yang dihadapi. 







Membalikan hambatan menjadi peluang yang ada didepan mata
Walau dengan beban yang berat membalikan hambatan menjadi peluang yang ada didepan mata


Hambatan-hambatan yang sering dialami bagi Pebisnis


Perkembangan zaman yang diawali dengan membaca peluang. Peluang tidak akan pernah mati. Pilihan pekerjaan atau peluang bisnis di era sekarang ini semakin variatif. 

Sukses tidak akan pernah terlepas dari hambatan dan rintangan yang selalu menghadang dan berhasil dilalui. Jatuh bangun merupakan proses untuk mencapai sukses. Perlu disadari bahwa peluang dan hambatan adalah suatu pasangan yang tak terpisahkan.


Berikut rintangan atau hambatan yang sering timbul :




1. Kurangnya dukungan 



Dalam hal apapun setiap individu membutuhkan dukungan dari individu lainnya, setidaknya mendapatkan dukungan emosional dari orang lain. harapan dari mendapatkan dukungan dari orang lain untuk menghalau rasa frustasi saat menghadapi rintangan / hambatan. 


Carilah mentor atau bergabung dengan kelompok yang selaras dan sejalan, untuk mendapat dukungan dan bantuan setidaknya dalam bentuk support. Support dari pasangan juga dapat membantu dalam mencari solusi.




2. Keinginan untuk melakukan sesuatu yang baik 



Pebisnis lebih cenderung menginginkan semua yang direncananya dapat berjalan sempurna. Hal ini justru sering menimbulkan perasaan tertekan saat bisnisnya tidak berjalan sesuai rencana. 


Di balik bisnis yang baru berdiri, tidak jarang ada sosok pebisnis yang melakukan semuanya sendiri. Ada baiknya untuk tidak terlalu menekan diri sendiri dengan target-target yang mencekik. 


Tidak ada salahnya meminta bantuan orang lain untuk mengerjakan sesuatu. 


Selain meringankan pekerjaan, meminta bantuan dengan orang lain menandakan sudah mengetahui keterbatasannya.




3. Mendapatkan dan mempertahankan model 



Tantangan yang harus dilalui pebisnis adalah mencari model atau brand ambassador. Posisi seorang model dalam dunia bisnis sangat diperlukan dan penting. Semakin menjual model yang dipakai, semakin tinggi permintaan konsumen terhadap produk. 


Seorang model yang ternama selalu memiliki tarif yang cukup tinggi. menghemat pengeluaran dengan meminta pertolongan saudara atau teman untuk mengatasi masalah ini. 


Selain meminimalisir pengeluaran, akan lebih mudah untuk mempertahankan model jika berangkat atau bermula dari saudara atau teman. Hal yang penting dan dapat dilakukan adalah membuat konsep iklan yang menarik. 


Tidak semua iklan membutuhkan model, tetapi sebuah iklan selalu memiliki konsep. Konsep iklan yang menarik mampu menggiring pelanggan untuk menggunakan produk. dengan demikian harus memiliki ide-ide kreatif di saat pengeluaran bisnis mulai meninggi. 




4. Menemukan pelanggan pertama 



Tidaklah mudah untuk membuat konsumen mempercayai produk yang baru buat.  Konsumen selalu mempertanyakan apakah produk cukup enak, memuaskan, atau setidaknya menarik. 


Berapa cara yang bisa di lakukan. yaitu dengan mengatasi hambatan ini dengan memberikan sampel kepada calon konsumen. dapat juga dengan memberikan promo di awal, seperti beli dua gratis satu. 


Promo dan diskon menjadi bagian yang sangat menarik untuk meraup konsumen. Yang terpenting adalah dapat beri kesan pelayanan yang memuaskan. 




5. Ditolak investor 



Membangun kepercayaan konsumen, membuat investor percaya terhadap bisnis adalah sesuatu hal yang tidak mudah. Terlebih bisnis baru dibangun. Seringnya penolakan demi penolakan dan tak jarang membuat tertekan dan ingin menyerah. 


Kesuksesan menggaet investor juga berangkat dari bagaimana cara meyakinkan mereka. Perlu untuk mengetahui apa yang diinginkan investor, pilihlah investor yang relevan dengan bisnis. Penting untuk memetakan target calon investor beserta karakteristiknya. 


Bagaimana orang lain akan percaya jika menampilkan sesuatu yang tidak meyakinkan. Sehingga butuh sikap percaya diri atas apa yang akan di bangun. 




6. Menyadari langkah yang salah 



Dengan pengorbanan yang besar di lakukan, tak jarang bukan dari hasil yang baik untuk dapat diterima. Di satu sisi merasa bahwa apa yang sudah dijalankan dan harus dipertahankan. 


Di sisi lain disadari bahwa sangat tersiksa dengan keadaan ini. Dalam hal ini tidak perlu dirisaukan, mungkin hanya caranya yang kurang tepat. Ibarat memiliki daging, tidak bisa memotongnya dengan menggunakan pisau roti. 


Daging membutuhkan pisau daging. Roti membutuhkan pisau roti. Sadarilah bahwa cara yang kurang tepat. Lalu cobalah cara lain dalam mengurus bisnis. dalam hal ini bukan berarti gagal, tapi hanya caranya saja yang kurang tepat.




7. Menutup bisnis 



Keputusan untuk menutup bisnis merupakan keputusan yang sangat berat, yang mungkin terjadi pada semua bisnis. Tidak hanya terjadi pada pebisnis pemula. Pebisnis yang sudah mapan pun mungkin bisa mengalaminya.


Keputusan ini merupakan keputusan yang sangat berat untuk diambil, terutama setelah banyaknya pengorbanan yang sudah lakukan, sangat menyakitkan untuk menutup bisnis begitu saja. 


Namun hal ini harus dilakukan jika semua cara yang dicoba nyatanya tidak berhasil.  Menutup bisnis bukan berarti gagal. Mungkin saja ini terjadi karena pilihan bisnis yang kurang tepat.


Setelah menyadari cara membangun bisnis yang kurang tepat, maka dapat mencoba cara lain. setelah berulang kali mencoba dengan cara lain dan ternyata tetap tidak berhasil. sehingga hanya satu-satunya jalan adalah menutup bisnis. 







Sebagai penutup, diucapkan terima kasih telah meluang waktunya untuk membaca artikel Membalikan hambatan menjadi peluang yang ada didepan mata.

Semoga artikel ini memberi manfaat serta menginspirasi. Bila ada yang ingin mendiskusikan bisa mengklik " Contact Us "



Membalikan hambatan menjadi peluang yang ada didepan mata
Cara membalikan hambatan menjadi peluang untuk sukses

1 comment:



Terima kasih, telah membaca dan memberi komentarnya

Semoga Artikel ini memberi inspirasi dan bermanfaat.

Brokoko

Popular Posts